Waktu menyeret langkah-langkah karya manusia. Lumpur-lumpur kehidupan terus membayangi dalam tatanan hidup dunia. Kadang secara tersirat kaki manusia menginjaknya tidak sengaja. Begitulah jalan hidup manusia. Karena manusia adalah mahluk salah dan lupa. Kesahalan manusia perlu ditashihkan oleh kalam-kalam ilahi. Kalam-kalam ilahi tak usang bagi manusia yang mau berfikir. Ciri manusia yang berfikir tidak terlepas dengan pegangan firmannya.

Ketika awan berjalan di atas kepala manusia. Birunya langit serasa diam melihat pergerakannya. Maka bisa ambil hikmah dari analogi tersebut bahwa birunya langit adalah jasad diri manusia. Sedangkan awan merupakan sifat-sifat manusia yang terus bergerak seiring dengan pertumbuhan dan perkembangannya. Untuk itu sifat manusia perlu berubah seiring evolusi pada dirinya. Dari tidak baik menuju yang lebih baik. Sehingga infeksi sifat su'u( sifat buruk) akan meredup dari kemauan manusia yang ingin merubahnya. Lantas apakah bisa berubah dengan sendirinya ? Perubahan diri manusia biasanya dengan sentuhan agama. Karena sentuhan agama tidak memaksakan kehendaknya untuk merubah sikap manusia. Sebagaimana firman Tuhan yang berbunyi semua kaum muslim akan masuk surga kecuali yang tidak mau.
0 Komentar